Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

Social Netwock Buatan Anak Bangsa

Wah, udah lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali saya ngga’ menulis di blog  tercinta ini. Walaupun  blog ini tdk terlalu terkenal, komentar-komentar dari pembaca blog ini terus mengalir. Dan akhirnya, setelah saya mendapatkan semangat. Saya akhirnya kembali untuk menulis sesuatu yang bermanfaat lagi di blog ini.
Nah, sekarang saya akan bahas soal situs Social Netwock. Ternyata ada banyak sekali Social Netwock buatan anak bangsa yang tak kalah dengan Facebook maupun Twitter. Bahkan, ada salah satu dari Social Netwock buatan anak bangsa ini yang sudah diakuisi oleh Yahoo. Hmm, penasaran dengan Social Netwock buatan anak bangsa sendiri? Ini dia alamat Social Netwock yang tadi saya ceritakan.
Itulah 9 Social Netwock yang saya ketahui. Sebenarnya ada banyak sekali Social Netwock buatan anak bangsa. Tapi, yang terdeteksi hanya 9 saja. Khusus Koprol.com sekarang malah sudah diakuisi oleh Yahoo. Jadi, sudah tidak bisa dianggap Social Netwock kecil lagi.
Oiya, namasumber dari Social Netwock di atas adalah http://ambil.info/ubahtampilanfacebookmu. Kita bisa download ebook dari situs tersebut. Ebooknya juga lumayan keren. Jadi, silahkan download segera ebooknya. mengingat file ebook ini udah didownload sekitar 8000-an. Yang pasti ebook ini bagus banget.
Oke, sekian dulu artikel tentang Social Netwock ini. Semoga aja bermanfaat bagi pembaca semua. Salam…..^^v.

Kamis, 07 Juli 2011

Teliti Salat Jumat, Raih Gelar Doktor

Ilustrasi : ist.
JAKARTA – Siapa sangka khotbah Jumat yang merupakan salah satu ritual dalam agama Islam dipilih sebagai topik untuk diteliti demi meraih gelar doktor?  
Topik ini begitu menarik perhatian Dosen Linguistik Universitas Sebelas Maret, (UNS) Surakarta, Kundaru Saddhono, S.S., M.Hum sehingga menjadikan khotbah Jumat sebagai obyek penelitian untuk meraih gelar doktor.
 
Pada ujian terbuka promosi doktornya, kemarin di Fakultas Ilmu Budaya (IPB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kandaru mengemukakan hasil penelitiannya mengupas lebih dalam mengenai khotbah Jumat.
 
Dihadapan para promotor, yakni Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana dan o-promotor Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo, Kandaru menjelaskan, khotbah Jumat kerap kali disampaikan oleh seorang khatib dengan berbagai bahasa.
 
“Di Surakarta misalnya. Khotbah Jumat dibawakan dalam tiga bahasa, yakni bahasa Jawa Indonesia, dan Arab. Bahkan tak jarang ketiganya disampaikan bersama,” kata Kandaru seperti dikutip dari situs UGM, Selasa (5/7/2011).
 
Menurut Kandaru, penggunaan bahasa disesaikan dengan kondisi masyarakat di daerah tersebut. Bahasa Jawa disampaikan di daerah pedesaan sementara bahasa Indoneia digunakan si daerah perkotaan. “Di perkotaan, jemaah salat Jumat berasal dari berbagai latar belakang, baik pendidikan, budaya profesi, dan sebagainya,” ujarnya.
 
Kundaru mengatakan, lingkungan sosial masjid memberikan pengaruh besar dalam penggunaan bahasa maupun pemilihan topik Khotbah Jumat di setiap masjid. “Faktor sosial inilah yang menjadikan corak Khotbah Jumat di tiap lingkungan berbeda,” katanya.
 
Selain itu, penutur, mitra tutur, dan tindak tutur juga berpengaruh dalam pemakaian bahasa dan kosakata. “Penutur atau khotib mempunyai kebebasan dalam menyampaikan khotbah dengan gaya bahasanya sendiri, tetapi tetap pada atura yang berlaku,” kata Kundaru menjelaskan.
(rhs)

PGSI: Guru Swasta Tuntut Jamsostek Bagi Guru Swasta

Kamis, 07 Juli 2011 17:35 wib
Ilustrasi : Corbis
Ilustrasi : Corbis
JAKARTA - Ketua Dewan Penasehat Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI), Suparman mengatakan, saat ini jumlah guru swasta di Indonesia mencapai 700 ribu orang. Sejak dulu mereka tidak pernah dilindungi oleh pemerintah karena tidak memiliki payung hukum yang jelas untuk mendapatkan status PNS.

Oleh karena itu, apabila pemerintah memang tidak mempunyai keinginan menaikkan status mereka menjadi guru negara, maka harus ada jaminan sosial bagi guru. Jaminan tersebut meliputi jaminan kecelakaan kerja, kematian, hari tua dan pelayanan kesehatan. Suparman menjelaskan, dengan adanya Jamsostek  para guru swasta tidak akan lagi menuntut jabatan PNS.

Tidak hanya itu, ungkap Suparman, gaji yang mereka terima juga di bawah upah minimum provinsi (UMP) antara Rp150-700 ribu. Bahkan di beberapa daerah masih ada yang bergaji Rp75-100 ribu. “Kami menghargai tunjangan profesi. Hanya persentase guru swasta yang mendapatkan itu sedikit. Untuk memperoleh tunjangan profesi itu harus melalui proses yang sulit. Sehingga hanya guru muda saja yang tersertifikasi, sementara guru yang di atas 20 tahun bekerja dianggap belum memenuhi syarat,” ujarnya.

Suparman akan tetap meminta dana tunjangan fungsional agar mencapai Rp1,29 juta dan semua guru swasta harus mendapatkannya. Guru swasta akan lebih menghargai apabila pemerintah mau memberikan penghargaan bagi guru dengan tunjangan profesi dan fungsional.

Pemerintah saat ini juga masih dianggap acuh kepada guru swasta karena kenaikan status PNS hanya diberikan kepada guru swasta yang bekerja di sekolah negeri. Pihaknya meminta agar pemerintah segera menaikkan status guru yang sudah mengabdi puluhan tahun menjadi PNS secepatnya.

Kemarin di Tugu Proklamasi, PGSI mendeklarasikan organisasinya yang berangotakan 350 ribu guru swasta. Tujuan dibentuknya organisasi ini ialah untuk memperkuat posisi guru swasta agar lebih diperhatikan perlindungan dan kesejahteraannya oleh pemerintah. Sesudah deklarasi, PGSI lalu berdemo di depan Gedung Kemendiknas dan melakukan audiensi dengan Komisi X DPR.
(Neneng Zubaidah/Koran SI/rhs)